**Sosok Seorang Akhwat**

Alkisah, terdapat seorang wanita yang hidup di zaman yang tanda2 kiamat sudah jelas baginya. Dia hidup dengan jilbab besarnya. Dibalik jilbab besarnya itu, tampak sebuah keanggunan dan kemantapan yang bisa dilihat oleh orang-orang yang bejiwa hanif-jiwa yang condong kepada kebenaran-. Bahkan ketika dia terdiampun, tampak ketenangan yang luar biasa. Di sisi lain, terdapat seorang pemuda yang diam-diam memperhatikannya. Sungguh, baru kali itu dia melihat sosok yang anggun tersebut. Cantik, bersih, rapi, dan tenang. Sosok yang mungkin hanya ada dalam pikirannya. Sosok itu sangat menenangkan hatinya, bahkan ketika tidak melihatnya, dia merasa rindu dengan ketenangan itu. Itulah ketenangan yang sudah lama tidak dirasakannya. Dia tahu melihatnya merupakan sebuah hal yang kurang baik baginya, terutama jika pihak ketiga -setan- sudah mulai masuk ke matanya. Tetapi dia hanya sesekali saja memperhatikan wanita itu, bahkan kalau perlu dia menghalangi pandangannya dengan benda yang kira2 bisa menjadi benteng baginya dengan wanita itu.

Hari demi haripun berlalu, dan wanita itu sudah banyak sekali memberi kebaikan dalam hidup pemuda itu. Kebaikan yang membuahkan kebaikan lain. Setiap kebaikan akan dibalas dengan 10 kali kebaikan, itulah yang ada dipikiran pemuda itu. “Semoga wanita itu mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda” doanya. Sebuah sosok yang tenang, dan menenangkan. Banyak sekali nasihat-nasihat ataupun jawaban dari sosok itu yang membuatnya kembali mengingat masa-masa lalunya. Masa-masa dimana dia sangat mencintai sang khalik, tuhannya, penciptanya.

Pemuda itu teringat masa lalu. Masa dimana dia pernah meninggalkan sesuatu karena tuhannya. Masa dimana dia merasa berat untuk melakukannya, tetapi tuhannya memberi dia keteguhan hati untuk meninggalkan apa yang dicintainya itu. Saat dimana dia sangat mempercayai janji tuhannya, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Saat dimana dia pernah meminta kepada tuhannya secara konsisten dalam doanya, untuk mendapatkan sesuatu yang membuat hidupnya bisa lebih baik. Sesuatu. Sesuatu yang sangat lama dia nantikan. Mungkinkah sosok itu yang dijanjikan oleh tuhannya? Sungguh, tuhannya tidak mungkin lupa akan janjinya. Hanya makhluklah yang mempunyai sifat pelupa. Bahkan lupa mereka dulu pernah bersaksi dihadapan tuhannya, ketika mereka diciptakan. Ruh yang terlupa atas semua kesaksiannya, meski sudah dilengkapi dengan akal dan hati.

Sosok itu tersenyum. Si pemuda merasa tenang dengan seyuman itu, padahal dibalik dadanya, terjadi detak yang tidak pernah dialami sebelumnya. Dia merasa jantungnya tidak sanggup untuk mendapat beban seberat itu. Padahal mungkin saja jantungnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi, lalu mengirimkan sinyal berupa degupan kepada pemuda itu. Pemuda itu merasa senyuman itu tidak pantas dilihatnya di alam fana ini. Mungkin di surga nanti, dia selayaknya melihat senyum seperti ini. Sebuah senyuman. Ya, sebuah senyuman yang seolah-olah mengatakan, ‘wahai jiwa yang tenang, berbahagialah dan janganlah engkau khawatir’. *)

Pemuda ini sudah mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Kebiasaan yang membuatnya menjadi boros uang, waktu, dan tenaga. Kebiasaan itulah yang selama ini membelenggunya dari berzikir dan merenung. Waktu-waktunya dihabiskan dengan kesenangan semu yang kadang membuatnya kesal. Kesenangan itu harus dibayarnya dengan uang, dan sedihnya tanpa hasil yang memuaskan. Bermain game. Haha, mungkin sebagian orang menganggap itu perkara mudah. ‘Tidak sama sekali’ pikir pemuda itu. Itu bahkan sama berbahayanya dengan ketagihan rokok, bahkan mungkin lebih parah. Dia dulu pernah bermain tampa kenal waktu. Apapun ditinggalkan hanya untuk memuaskan keingingannya untuk bermain game ini. Bahkan tidak jarang sampai menginap di tempat permainan dan pulang subuh. Berbahaya sekali dampaknya. Game-game ini memang dirancang orang-orang kafir agar generasi muda islam terlena dengan khayalan. Akhirnya mereka tidak menuntut ilmu dan tidak mengkaji al-quran. Sebenarnya pelarian ke game ini memuncak pada masa-masa akhir kuliah pemuda ini. Ketika semua usahanya dirasa sulit untuk menyelesaikan tugas akhirnya, dia berlari ke tempat ini. Disinilah hilang semua beban setoran ke dosen pembimbing. Justru semakin ditunda, semakin banyak utang yang harus dibayar ke dosen tersebut. Tetapi itu sudah berlalu, setelah kedua orang tua pemuda itu menyadarkannya, bahwa dia tidak hanya bertanggung jawab kepada dosen itu, tetapi juga kepada kedua orang tuanya yang sudah mendoakannya. Akhirnya, kebiasaan bermainnya mulai berkurang sejak saat itu, meski belum ditinggalkannya.

Sosok wanita itu sudah mengubah kebiasaannya. Merenung dan membaca. Mungkin itu yang mulai ditekuninya saat ini. Siapa yang tahu!? Apakah dia bisa konsisten atau tidak, tetapi dengan niat yang kuat, dia pasti bisa melakukannya. Kadang dia pergi ke masjid sendirian. Hanya sendirian, tanpa teman. Menyedihkan memang bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi dia. Toh dulu pun,seseorang yang berhati mulia sering menyendiri di dalam gua. Jadi, tak ada salahnya, pikir pemuda itu. Meski, pemuda itu tidak benar-benar sendiri di masjid itu. Masih banyak orang-orang yang menyendiri di tempat itu, sama sepertinya. Disitulah, tempat dia dulu pernah merasakan ketenangan batin. Beralaskan kayu, dengan atap yang tinggi, rintik-rintik hujan, dan semilir angin nan sejuk, memang sangat cocok bagi pemuda itu untuk solat, membaca, dan merenung. Dalam kesendirian hatinya itu, justru dia merasa lebih personal mengenal tuhannya. Tuhan yang selama ini dia abaikan. Na’udzubillah.

Kini, pemuda itu sudah menemukan kembali cintanya yang hilang. Cinta kepada tuhannya, zat yang sebenarnya memberi dia kenikmatan selama ini, tetapi telah lama dia abaikan. Sosok wanita itulah yang telah membuatnya sadar. Sadar dari mimpinya selama ini. Sebuah mimpi buruk. Sosok yang tidak suka dipuji. Sosok yang sangat mencintai tuhannya, bahkan dia tidak segan untuk marah ketika tuhannya itu disebut dengan sebutan yang tidak jelas untuk zat yang bernama TUHAN. “Allah”, begitulah dia ingin pemuda ini menyebut tuhannya. Tidak dengan istilah lain yang tidak jelas peruntukkannya. Dan kini, pemuda ini semakin mengerti arti cinta yang sesungguhnya, meski belum semengerti sang ’sosok’.

Allah, sumber dari cinta. Dialah yang telah menumbuhkan cinta didalam benak ciptaanNya. Cinta seorang ibu kepada anaknya, seorang anak kepada ibunya, seorang pemimpin kepada yang dipimpinnya, dan tentu seorang ciptaan kepada penciptanya. Kini, pemuda itu mulai mencintai sosok wanita tersebut. Mengapa? Karena dia sudah mencintai tuhannya, maka diapun akan mencintai sosok yang juga mencintai tuhannya. Selama sosok itu masih mencintai tuhannya, selama itu pula dia akan mencintai sosok tersebut. Tetapi, jika suatu saat sang sosok sudah tidak lagi mencintai tuhannya, maka cinta diapun akan hilang untuk sang sosok, dan dia akan mencari sosok lain untuk dicintai.

-umzak-saat rintik-rintik hujan menyapu debu jalanan-

catatan kaki:
*) aduh saya bener-bener berkaca2 waktu nulis kalimat ini.

**Surga**

Jumat malam, didalam sebuah bus ac menuju tempat tinggal orang tuanya. Terdapat seorang pemuda bersama temannya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka duduk bersebelahan dengan suhu ruangan yg cukup dingin. Penulis lupakan saja tentang teman pemuda ini. Penulis hanya ingin fokus pada pemuda ini.

Dia-pemuda itu- kebetulan duduk dekat dengan jendela. Sesekali matanya diarahkan keluar, melihat apa saja yang sudah dilewatinya. Dia ingat ketika bus yang ditumpanginya sedang menunggu penumpang lain di terminal sebelum berangkat. Saat itu beberapa penjual masuk untuk menawarkan dagangannya, ada yang jual kue, minuman, bahkan ada yang meminta-minta. Pemuda ini berpikir agak jauh keatas. Ya, keatas. Ke orang-orang yang ada diatas sana, para pemimpin, dan orang-orang yang jadi wakil para pedagang ini-wakil rakyat-. Apakah para pedagang ini ingat bahwa sebenarnya mereka punya wakil yang sudah mereka tempatkan di gedung-gedung mewah itu? Ingatkah para pedagang ini dengan wakilnya disana yang bisa makan enak? Kalo ingat, kenapa mereka tidak menyuruh wakil-wakilnya itu saja yang berjualan didalam bus? Ah, pertanyaan yang tidak perlu dijawab, pikir pemuda itu.

Pemuda itu memejamkan mata. Tiba-tiba pikirannya mulai bergairah kembali. Dia bertanya dalam hatinya, bagaimana jika bus yang ditumpanginya itu adalah bus yang akan membawanya ke surga? Yah, dia merasa senang. Lalu dia mulai berpikir, jika sudah sampai surga nanti apa yang akan dilihatnya. Seketika itu juga, dia masuk kedalam dunia khayalnya. Dia melihat tempat yang sangat jauh, tetapi terlihat begitu besar. Bentengnya begitu menjulang tinggi, sampai tidak terlihat ujung atasnya, meski dia melihatnya dari kejauhan.

Pemuda itu mulai memasuki gerbang pintu surga. Dia melihat didalamnya tidak terlalu penuh sesak. Hanya ada beberapa orang saja didalamnya. Kemudian dia lihat sebuah jembatan, yang dibawahnya terdapat sungai. Sebelum dia menyebrangi jembatan itu, dia turun ke sungai itu untuk menyegarkan diri. Di sungai itu, sudah terdapat beberapa orang, dan mereka pun berbincang-bincang di sungai itu. Sambil menarik nafas, dia melihat keatas, dan dilihatnyalah keindahan lain. Keindahan yang melebihi tempat dia tinggal. Lalu pikirannya tersentak, ketika tahu bahwa dia akan hidup didalamnya selama-lamanya. deg-deg-deg. Selama-lamanya dengan kesenangan? Pemuda itu sadar bahwa itu hanya ada dalam khayalannya, tapi… hidup selamanya dengan penuh kesenangan? Dia tidak sanggup menahan rasa inginnya. Dia menutup mukanya dan menunduk, hingga kepalanya menyentuh kursi didepannya. Dadanya terasa sangat hangat, sama seperti orang menangis. Menangis karena menginginkan sesuatu,… Dia sangat menginginkan masuk kedalamnya. Khayalannya tidak sanggup menjawab pertanyaannya sendiri, bagaimana jika hidup selamanya di tempat itu dalam kesenangan dan kebahagiaan? Tanpa henti?